Home
Program
menu
Order Tickets
Directions
Guest Book
Photo Gallery
Guest Book
.
Home | Program | Order Tickets | Directions

 

--Press Release by Pasar Malam Indonesia, September 18th 2002  ( English)--

Wheaton, Maryland USA – September 18, 2002 –

On Saturday Night - September the 14th, Wheaton was changed for a moment to the Indonesian Capital - Jakarta. The First Pasar Malam Indonesia on the East Coast of the USA was Organized by IKI and Harmony Band where the Indonesian Music, Art, Dance, and Indonesia ethnic food were promoted to an International audience.

There was a lot to do and to see - at this event, the Pasar Malam Indonesia.  The evening, from 07:00pm – 11:30pm, was guided by our two  “Masters of Ceremony” Nadya Madjid and Ary Arifin.
The Pasar Malam Indonesia was held for the first time in this area and attracted more than 300 visitors.  It was a bit more than we expected (and were allowed ) in the building- the American Legion Post 268.  Hopefully the extra crowd did not inconvenient our guests.

The tickets were sold out one week before the event started.  Due to the capacity limitation, we had to disappoint many fans.  We love to have all of you but unfortunately it could not be possible!  We are currently working on the next Pasar Malam Indonesia at bigger place. We will inform you in time via our mailing list, emails and news letter.

In addition, if you are or know someone who is, an artist, performer, musicians with Indonesian cultural background, we want you to join us.  Please send us an email letting us know of your talents in a brief background to IrmaPane@PasarMalamIndonesia.com.  We will definitely contact you A.S.A.P.
At 07.30pm, a half hour behind scheduled, the Pasar Malam Indonesia was opened by the chairman of  IKI, Mr. Irawan Nugroho and followed by the official Opening – Bapak M. Sodik, Vice Cultural Attaché of the Indonesian Embassy in Washington D.C.  Harmony Band started playing Keroncong music with our Keroncong  guest stars singers:
Irma Pane, Rey Wowor, Sisca Harinowo, Endang Tirayoh, and Errol Tandayu.

Right after this, the traditional Balinese dances - choreographed by Mr. IGA Ngr. Supartha who has already performed all over the world with his creations, was performed by his dancers.  

Then, Malina Eppley performed the “Alang Babeba Dance” from the Minangkabau people.  Great!

Many thanks also to the Kolintang Band Kawanua USA, lead and taught by Donny Tuyu who specially came over from New York.  It took him a week to teach and  help us out.
The Kolintang instruments, itself, had been flown straight from Manado, Indonesia. It was a week of hard practice and paid off for an overwhelmed audience. Splendid performance!

Another highlight was the Indonesian Martial Arts Group  “Pencak Silat.”  It got the crowd very excited.  Thanks guys for your fantastic show!

The food stands, with their exotic aroma of spices, drinks and music, was the perfect combination of a success evening.  Especially toward the closing of this event,  Irma Pane, Maya Utomo, and Harmony Band started with entertaining our guests by opening the dance floor with the Pop, Rock&Roll and Dangdut music. FYI.  Our guest star from Holland “Raymond  Loth“ sang a couple of Elvis songs. It pleased the crowd.  Thanks, Ray!

Many thanks also to the many volunteers who made this Pasar Malam Indonesia event possible.  This including my good friend, Artist Singer Rey Wowor.  She came all the way from Atlanta ( Georgia ) just to help us out.  What a great performance, it was.

A special thanks also for the support of  the press:  “Bung Pohan of  Jawa Pos, and the TV Nusantara team - who are currently broadcasting from Virginia.  Many, many thanks for promoting this event !

And last but not least, we want to thank many nameless volunteers who without them, we would not succeeded.  

The course of the Pasar Malam Indonesia is mend to stimulate and promote Indonesian Culture,  Art, and Food.
Hopefully “The Pasar Malam Indonesia “ did succeed in doing this.  We’ll do a lot more events like this for many more visitors to experience “the Melting Pot” of our beautiful Indonesia.

Many Regards, and see you at the next Pasar Malam Indonesia,

( Irma Pane  - Promoter PasarMalamIndonesia.com )

 

--Press Release by Jawa Pos, ( "Bung" Pohan) September 19th 2002 -- ( Bahasa Indonesia).

Di Balik Semangat Pasar Malam dan Poco-Poco

Oleh RAMADHAN POHAN.

ADA yang baru di kalangan masyarakat Indonesia di Washington DC area. Apa itu? Pasar Malam. Kendati baru pertama digelar, Pasar Malam ini ternyata cepat merebut animo para WNI perantauan maupun yang sudah menjadi citizen Negeri Paman Sam.

Selain makanan dan tari tradisional, Pasar Malam juga mengisi kerinduan orang Indonesia pada tanah airnya. Tapi, jangan silap, ada banyak pasangan campur Indonesia-AS, baik yang bule maupun blacks, yang juga enjoy di Pasar Malam itu.

Tampaknya, yang namanya Pasar Malam sama saja di mana-mana. Begitulah pemandangan di gedung Wheaton, pinggiran Washington, Minggu lalu waktu setempat. Di situ dibikin gerai-gerai makanan dan jajanan pasar daerah-daerah Indonesia. Ada nasi rawon, kue lumpur, pisang molen, mi bakso kuah, dendeng balado, rempeyek, nasi uduk, gado-gado, combro, dan lainnya.

Orang-orang Indonesia berjubel menyerbu Pasar Malam walau masuk saja mereka sudah harus bayar USD 5 (sekitar Rp 45 ribu). Sebanyak 150 tiket yang dijual habis semua. Terpaksa, ada yang pulang gigit jari karena tidak memiliki tiket.

Namun, jika bersabar dan penjaganya berbaik hati, orang-orang itu diperbolehkan masuk dengan "tiket darurat". Misalnya, satu tiket untuk empat orang. Namun, mereka tetap bayar USD 20.

"Susah juga. Warga datang dari tempat-tempat jauh, Philadelphia, Gaitesburg segala. Kalau jauh-jauh datang dan sampai sini disuruh pulang, saya bisa didemo sendirian," kata Tafsir, panitia merangkap penjaga pintu masuk gedung, bercanda.

Kenapa tiket yang dijual hanya 150 lembar? Ada dua alasan. Sukirman, salah seorang pimpinan panitia, mengatakan bahwa pemerintah lokal memang meminta agar jumlah tiket tidak lebih dari batas angka tadi. "Selain itu, ini semacam testing the water (mengukur kekuatan)-lah. Percobaan dulu," jelasnya.

Tapi, banyak warga yang tak mau tahu. Mereka tetap saja nongkrong, menunggu kesempatan diperbolehkan masuk. Alhasil, dari pengamatan Jawa Pos, jumlah yang datang ke Pasar Malam nyaris dua kali lipat. Ini dimungkinkan karena banyak yang keluar-masuk dan pulang karena takut kemalaman dan membawa balita.

Di dalam gedung, orang menyemut dan berdesak-desakan. Sebab, di pinggiran tempat orang berlalu-lalang itu, antrean membeli makanan terjadi di gerai-gerai. Masyarakat Indonesia berbaur satu sama lain, baik dari etnis Jawa, Sunda, Ambon, Manado, Minang, Tionghoa, Arab, Palembang, Kalimantan, maupun Bangka. Ada tokoh agama Nasrani, seperti Pendeta Nico Lewier. Ada juga mereka yang berasal dari organisasi muslim Indonesia, IMAAM (Indonesian Muslims in America).

Menyaksikan semua itu, siapa pun yakin bahwa orang Indonesia di perantauan rupanya lebih mudah akur dibandingkan di tanah airnya sendiri. Di Pasar Malam itu, mereka akrab dan berbagi cerita. Mereka tidak sekadar bertegur sapa. Ketika ada nyanyian dan tari Poco-Poco, semuanya berbaur.

Tatkala disuguhi tari Rantak dari Sumatera Barat oleh Malina-Nani dan tari Arina Kencana yang dikoreografi oleh IGA Ngr. Supartha, semua menikmati. Bukan hanya itu. Lagu-lagu keroncong Jali-Jali, Bengawan Solo, maupun permainan Kolintang Orkest Kawanua juga mendapat aplaus panjang dari penonton.

Penampilan mereka sama sekali tidak kalah oleh seniman maupun artis di Indonesia sendiri. Pemandangan lain yang menarik adalah dominasi pasangan campur Indonesia-Amerika di Pasar Malam, yakni sebagian wanita Indonesia yang bersuami orang bule atau blacks. Atau kebalikannya, pria Indonesia beristri penduduk setempat Amerika.

Sebagian membawa anak-anak mereka, yang kulit dan bahasanya pun campur-campur. Sebagian pria-pria kulit putih itu mengenakan batik, sedangkan pasangan wanita Indonesianya lebih banyak berpakaian bebas.

Di antara pasangan campur di Pasar Malam, ada penyanyi pop yang kini bermukim di AS, Rey Wowor. Ada juga penyanyi pop dari Jakarta lainnya, Irma Pane, yang bersuami Henk Braam. Tidak ada perbedaan spesifik antara pasangan campur dan noncampur. Paling-paling, hanya soal fisik atau pandangan mata.

Semua pasangan campur itu menikmati suguhan Pasar Malam. Mereka kelihatan enjoy melahap sate padang, bubur ayam, gudeg, buntil, lumpia, arem-arem, siomay, cendol, dan jajanan pasar atau makanan tradisi lainnya. Jangan silap, mereka juga tidak kapok dengan rasa sambal.

Para pasangan campur bersama anak-anak mereka berbaur pula dengan penonton Pasar Malam ketika ada atraksi bela diri Indonesia. Suara mereka riuh-rendah dan penuh decak kagum melihat penampilan Seni Bela Diri Indonesia pimpinan Ocenk Sentosa Basri. Misalnya, ketika memecah batu, mematahkan papan balok dengan tendangan maupun entakan kepala, dan teknik kekebalan tubuh lainnya.

Sebagian besar murid Ocenk itu orang Amerika. Ketika tiba giliran jaipongan dan dangdut, semua orang berjoget. Segala jenis goyangan ada. Lagu-lagu dangdut populer, seperti Cintaku Terbagi Dua, misalnya, ampuh menjadi magnet penonton untuk berjoget.

Suasana Pasar Malam benar-benar afdol. Hiburan dan atraksi gado-gado berkombinasi pas dengan jajanan pasar dan masakan daerah-daerah. Ketika dilakukan di Amerika sekalipun, rupanya cita rasa dan nuansa Pasar Malam tetap terasa. Ikatan Keluarga Indonesia (IKI) -yang bersama Irma Pane, Sukiman cs memprakarsai dan menggalang Pasar Malam- patut merasa lega. Paling tidak, diplomasi kebudayaan yang dilakukan warga masyarakat biasa ini jalan juga.

Masyarakat Indonesia menghadirkan seni, tradisi, dan kebudayaan Indonesia di Amerika, tanpa melalui keketatan protokol ini-itu atau jargon-jargon demi ini-itu atau dalam rangka ini-itu. "Kami senang sekali karena respons publik rupanya cukup tinggi untuk Pasar Malam ini," ungkap Irawan Nugroho, ketua IKI.

Pasar Malam ini juga bakal ditayangkan di TV Virginia channel 30 karena Iyan Hernanto dari Nusantara Teve terus aktif menyorot semua atraksi menarik para penggiat kebudayaan Indonesia itu.

Iyan yang arek Jatim itu menahbiskan Nusantara Teve sebagai TV pertama Indonesia di Washington DC area. Stasiun TV fairfax public service di saluran 30 ini memberi Iyan dan Nusantara Teve empat kali sebulan naik siar di depan publik Washington DC area.

Banggalah Indonesia. Sebab, tanpa topangan dana sekalipun, warganya tetap bisa mengukuhkan wajah bangsa di depan publik Amerika. Uji coba pertama Pasar Malam yang sukses besar itu mau tak mau memutar otak penyelenggara, Irma cs. Banyak permintaan supaya Pasar Malam diadakan di gedung superluas dan dibikin lebih ramai lagi.

"Kita lihat saja nanti. Pokoknya, kami akan membicarakan semua hal. Yang pertama ini kita evaluasi. Kemudian, kita merancang Pasar Malam kedua, mungkin November atau Desember nanti," kata Irma. (*)

http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=4072

 

--Press Release by Pasar Malam Indonesia, September 19th 2002 ( English)--

The Pasar Malam Indonesia will be broadcasted 3 x on TV channel 30 ( Only available in Fairfax ( Va) at the moment with the following schedule.

Saturday 21 Sept 2002 5:30 pm
Sunday   22 Sept 2002 3:30 pm
Tuesday 24 Sept 2002 9:30 pm

Many thanks to Nusantara TV USA who is broadcasting this event.

( Irma Pane  - Promoter  PasarMalamIndonesia.com )

                  

 

 
Home | Program | Order Tickets | Directions
copyright © 2001 - www.PasarMalamIndonesia.com
design by: Websitedesigning.com